Pengaruh Psikis dan Psikologis korban Pelecehan
seksual
Psikis manusia pada dasarnya merupakan satu kesatuan dengan
sistem biologis, sebagai sub sistem dari eksistensi manusia, maka psikis
selalu berinteraksi dengan keseluruhan kemanusiaan. Karena itulah mental dan
psikis tidak dapat dipisahkan untuk melihat sisi jiwa manusia. Psikis, jiwa atau
kejiwaan, merujuk pada pengembangan dan aplikasi seperangkat prinsip-prinsip
praktis yang diarahkan kepada pencapaian dan pemeliharaan unsur psikologis dan
pencegahan dari kemungkinan timbulnya kerusakan mental.
Psikologi berasal dari perkataan Yunani “psyche” yang artinya jiwa, dan “logos”
yang artinya ilmu pengetahuan. Jadi secara
etimologi psikologi artinya ilmu yang mempelajari tentang jiwa, baik mengenai
macam-macam gejalanya, prosesnya maupun latar belakangnya, atau disebut
dengan ilmu jiwa.
Berbicara tentang jiwa, terlebih dahulu kita
harus dapat membedakan antara nyawa dengan jiwa. Jadi jiwa mengandung
pengertian-pengertian, nilai-nilai kebudayaan dan kecakapan-kecakapan. Dan dari pengertian tersebut paling
tidak dapat disimpulkan bahwa psikologi adalah ilmu pengetahuan yang
mempelajari semua tingkah laku dan perbuatan individu, dimana individu tersebut
tidak dapat dilepaskan dari lingkungannya.
Hubungan
pelecehan seksual dengan psikologis dan psikis korban. Sentuhan fisik, sentuhan non-fisik seperti siulan atau
isyarat seksual yang menimbulkan rasa risih, ucapan yang berhubungan dengan
pornografi, dan berbagai hal lain yang menyebabkan rasa tidak nyaman juga
diperhitungkan sebagai tindakan pelecehan seksual. Terlepas
dari hal tersebut, tindakan pelecehan seksual itu sendiri harus disikapi dengan
serius. Bukan hanya menimbulkan rasa tidak nyaman, pelecehan seksual juga
membuat korban rentan mengalami berbagai gangguan psikis. Berikut empat di antaranya:
a.
Gangguan cemas
Cemas merupakan reaksi
psikologis yang normal ketika seseorang menghadapi keadaan mencekam atau
situasi di luar harapannya. Namun, jika hal tersebut terjadi berkepanjangan dan
berdampak pada kehidupannya sehari-hari, maka bisa jadi merupakan pertanda dari
gangguan cemas.
b.
Depresi
Tak semua korban
pelecehan seksual berani untuk bicara dan melaporkan apa yang dialaminya.
Korban yang memilih untuk diam lebih rentan untuk mengalami depresi. Bila sudah
depresi, gejala utamanya adalah merasa sedih atau tertekan sepanjang hari,
mudah lelah dan tak memiliki tenaga untuk beraktivitas, serta kehilangan minat
terhadap hal-hal yang sebelumnya disukai.
c.
Trauma
Trauma, atau secara medis
disebut sebagai posttraumatic stress disorder, merupakan gangguan psikologis yang
rentan dialami korban pelecehan seksual tingkat lanjut, seperti percobaan
pemerkosaan. Pada gangguan ini,
penderitanya terbayang-bayang akan kejadian pelecehan seksual yang dialaminya
secara berkepanjangan. Mereka juga sering mengalami mimpi buruk tentang hal
tersebut dan berusaha menghindari segala sesuatu yang dapat membangkitkan
ingatan tentang kejadian mengerikan yang pernah dialaminya.
d.
Histeria
Histeria, atau disebut
juga dengan gangguan konversi, merupakan salah satu gangguan psikologis ekstrem
yang bisa terjadi pada korban pelecehan seksual. Gejala histeria umumnya berupa
hilangnya fungsi salah satu bagian tubuh secara mendadak tanpa adanya penyakit
fisik yang menyebabkannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar