Senin, 29 April 2019


Pengaruh Psikis dan Psikologis korban Pelecehan seksual
Psikis manusia pada dasarnya merupakan satu kesatuan dengan sistem biologis, sebagai sub sistem dari eksistensi manusia, maka psikis selalu berinteraksi dengan keseluruhan kemanusiaan. Karena itulah mental dan psikis tidak dapat dipisahkan untuk melihat sisi jiwa manusia. Psikis, jiwa atau kejiwaan, merujuk pada pengembangan dan aplikasi seperangkat prinsip-prinsip praktis yang diarahkan kepada pencapaian dan pemeliharaan unsur psikologis dan pencegahan dari kemungkinan timbulnya kerusakan mental.

Psikologi berasal dari perkataan Yunani “psyche” yang artinya jiwa, dan “logos” yang artinya ilmu pengetahuan. Jadi secara etimologi psikologi artinya ilmu yang mempelajari tentang jiwa, baik mengenai macam-macam gejalanya, prosesnya maupun latar belakangnya, atau disebut dengan  ilmu jiwa.
Berbicara tentang jiwa, terlebih dahulu kita harus dapat membedakan antara nyawa dengan jiwa. Jadi jiwa mengandung pengertian-pengertian, nilai-nilai kebudayaan dan kecakapan-kecakapan. Dan dari pengertian tersebut paling tidak dapat disimpulkan bahwa psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari semua tingkah laku dan perbuatan individu, dimana individu tersebut tidak dapat dilepaskan dari lingkungannya.
Hubungan pelecehan seksual dengan psikologis dan psikis korban. Sentuhan fisik, sentuhan non-fisik seperti siulan atau isyarat seksual yang menimbulkan rasa risih, ucapan yang berhubungan dengan pornografi, dan berbagai hal lain yang menyebabkan rasa tidak nyaman juga diperhitungkan sebagai tindakan pelecehan seksual. Terlepas dari hal tersebut, tindakan pelecehan seksual itu sendiri harus disikapi dengan serius. Bukan hanya menimbulkan rasa tidak nyaman, pelecehan seksual juga membuat korban rentan mengalami berbagai gangguan psikis.  Berikut empat di antaranya:
a.       Gangguan cemas
Cemas merupakan reaksi psikologis yang normal ketika seseorang menghadapi keadaan mencekam atau situasi di luar harapannya. Namun, jika hal tersebut terjadi berkepanjangan dan berdampak pada kehidupannya sehari-hari, maka bisa jadi merupakan pertanda dari gangguan cemas.
b.      Depresi
Tak semua korban pelecehan seksual berani untuk bicara dan melaporkan apa yang dialaminya. Korban yang memilih untuk diam lebih rentan untuk mengalami depresi. Bila sudah depresi, gejala utamanya adalah merasa sedih atau tertekan sepanjang hari, mudah lelah dan tak memiliki tenaga untuk beraktivitas, serta kehilangan minat terhadap hal-hal yang sebelumnya disukai.
c.       Trauma
Trauma, atau secara medis disebut sebagai posttraumatic stress disorder, merupakan gangguan psikologis yang rentan dialami korban pelecehan seksual tingkat lanjut, seperti percobaan pemerkosaan. Pada gangguan ini, penderitanya terbayang-bayang akan kejadian pelecehan seksual yang dialaminya secara berkepanjangan. Mereka juga sering mengalami mimpi buruk tentang hal tersebut dan berusaha menghindari segala sesuatu yang dapat membangkitkan ingatan tentang kejadian mengerikan yang pernah dialaminya.
d.      Histeria
Histeria, atau disebut juga dengan gangguan konversi, merupakan salah satu gangguan psikologis ekstrem yang bisa terjadi pada korban pelecehan seksual. Gejala histeria umumnya berupa hilangnya fungsi salah satu bagian tubuh secara mendadak tanpa adanya penyakit fisik yang menyebabkannya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar