Victim Blaming
Victim blaming adalah
suatu bentuk sikap menyalahkan seseorang atas kekerasan seksual yang mereka alami.
Gejala ini ditandai dengan kecenderungan memihak para pelaku. Masyarakat juga
lebih banyak mendengarkan cerita versi pelaku. Ketika menyalahkan korban,
masyarakat terbiasa menuduh korban ikut bertanggung jawab atas kekerasan
seksual yang terjadi pada dirinya. Misalnya mereka bilang kasus itu bisa
terjadi karena korbannya mengenakan pakaian yang kurang sopan dan lain-lain.
Mereka juga cenderung memberikan toleransi pada pelaku sehingga memungkinkan
mereka untuk lepas dari hukuman.
Di Indonesia, kebiasaan menyalahkan korban sangat
dipengaruhi oleh budaya
patriarki, ideologi yang mengakui hubungan tidak setara antara perempuan
dan laki-laki. Dalam budaya patriarki, posisi laki-laki lebih dominan, lebih
berpengaruh, sementara perempuan diposisikan sebagai bawahan. Akibatnya,
laki-laki menuntut rasa hormat dan kepatuhan perempuan dalam berbagai aspek
kehidupan.
Media memainkan peran ganda dalam kasus pelecehan seksual. Di satu sisi, media
adalah sumber informasi utama bagi masyarakat untuk mengetahui adanya pelecehan
terhadap seseorang sekaligus menjadi salah satu sarana edukasi masyarakat dalam
menyikapi pelecehan seksual. media juga bisa memberi tempat agar suara
penyintas didengar
Sikap menyalahkan korban dalam masyarakat patriaki
telah membuat para penyintas kekerasan seksual mengalami penderitaan ganda:
diperkosa dan disalahkan. Ini akan menyebabkan para penyintas tidak merasa aman
dalam membagikan cerita mereka kepada orang lain.Sikap menyalahkan korban juga
membawa dampak negatif lainnya.
Lingkungan masyarakat yang
melanggengkan sistem patriarki juga memperkuat budaya memerkosa atau rape culture yang
juga mendorong sikap menyalahkan korban. Budaya memerkosa didefinisikan sebagai
lingkungan yang menoleransi perkosaan dan kekerasan seksual.
Budaya memerkosa ini dilestarikan melalui penggunaan
bahasa yang merendahkan perempuan dengan mengomentari bentuk tubuh perempuan
atau menggunakan lelucon seksual maupun kasus perkosaan sebagai bahan lelucon.
Bercanda tentang perkosaan mengabaikan fakta bahwa
banyak penyintas pemerkosaan yang harus menghadapi luka fisik dan emosional
sekaligus, karena setelah diperkosa (yang tidak pernah ia harapkan) ia juga
disalahkan atau dijadikan bahan olok-olok oleh orang-orang di sekelilingnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar